AKIBAT PEMNASAN GLOBAL,bukan satrio hehehehe DUDU…….

Demam Berdarah Meningkat Akibat Pemanasan Global

Akibat pemanasan global, siklus inkubasi ekstrinsik virus penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di tubuh nyamuk Aedes aegyti menjadi lebih pendek. Akibatnya, kasus demam berdarah lebih mudah meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Masa inkubasi virus demam berdarah ada dua, di tubuh nyamuk dan manusia, akibat pemanasan global dan perubahan iklim siklus tersebut menjadi lebih pendek. Akibat pemanasan global suhu di udara naik sekitar 0,5-1 derajat celsius. Perubahan suhu itu sangat berpengaruh terhadap siklus hidup virus (bionomik) demam berdarah. Akibatnya siklus inkubasi virus itu menjadi lebih pendek.
Secara kumulatif ada sekitar 30 ribu kasus DBD di Indonesia selama Januari sampai April 2008. Dari 30 ribu kasus itu, kasus kematian yang terjadi antara 1 hingga 1,3 persen selama setahun. Ia mengakui, pemerintah kesulitan menekan angka kasus DBD, meskipun dapat menghambat laju tingkat kematian.
Angka kematian akibat DBD pada tahun 1968 mencapai 40 persen. Namun seiring waktu, pada tahun 2008 ini pemerintah berhasil menekan angka kematian antara 1 sampai 1,3 persen per tahun. Upaya pemerintah ini harus didukung tindakan masyarakat dengan kesadaran hidup bersih.
Harusnya ini tindakan proaktif masyarakat bukan hanya pemerintah.

Pengaruh Pemanasan Global Pada Candi Borobudur

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur sedang meneliti pengaruh pemanasan global terhadap bangunan Candi Borobudur. Saat ini mulai terlihat fenomena keausan batuan, khususnya ketajaman relief candi.
Tidak menutup kemungkinan nantinya Unesco akan dilibatkan pada penelitian lanjutan jika ditemukan fenomena menarik pengaruh pemanasan global terhadap bangunan candi.
Penelitian dilakukan oleh petugas Balai Konservasi Borobudur sendiri, namun nantinya akan didampingi oleh satu guru besar arkeologi. Siapa pakar pendamping itu, sampai saat ini belum ditentukan.
Penelitian ini masih bersifat pendahuluan. Jika hasil penelitian pendahuluan ini menemukan korelasi antara pemanasan global dengan kerusakan bangunan candi, akan dilakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam.
Secara teknis, penelitian akan difokuskan pada pengumpulan data tentang suhu, curah hujan dan tingkat kelembaban udara. Data ini sangat berarti untuk mengetahui adanya perubahan iklim mikro di sekitar Candi Borobudur.
Kebetulan ada data tentang suhu, curah hujan dan tingkat kelembaban di sekitar candi pada 10 tahun terakhir. Dengan demikian, tinggal membandingkan saja dengan data sekarang untuk mengetahui adanya perubahan iklim mikro di sekitar candi.
Setelah diakui perubahan suhu, kelembaban dan curah hujan bisa berdampak buruk terhadap batuan candi. Kerusakan batuan Candi Borobudur sebenarnya sudah mulai terlihat secara kasat mata. Batu-batu andesit yang menjadi bahan utama bangunan Candi Borobudur mulai terlihat aus.
Keausan batuan Candi Borobudur, lanjut sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh faktor cuaca. Gesekan alas kaki pengunjung dengan batuan candi, khususnya batuan untuk lantai, sudah lama diketahui. Penelitian kali ini lebih memfokuskan pada pengaruh perubahan iklim, khususnya pengaruh pemanasan global, terhadap tingkat kerusakan batuan candi.

Temperatur Global Turun

Temperatur global 2008 akan sedikit lebih dingin dibanding tahun lalu. Hal ini akibat arus dingin La Nina di Pasifik.Dinyatakan besar kemungkinan La Nina akan terus berlanjut sampai musim panas.
Kehadiran La Nina–yang berarti gadis kecil–memang berarti adanya pendinginan temperatur di timur dan tengah Pasifik. Hadir selama 12 bulan, La Nina mengirimkan hujan dan badai ke sekitar wilayah Pasifik, walaupun tidak sedahsyat kakaknya, El Nino, yang mengirim suhu panas.
Tahun ini bumi berada dalam genggaman La Nina. Tapi temperatur tahun ini–walaupun lebih dingin daripada tahun lalu–tetap akan berada di atas rata-rata.Diperkirakan temperatur tahun ini tetap akan lebih besar ketimbang patokan suhu 1998 akibat pemanasan global yang disebabkan oleh gas rumah kaca.
Ketika berbicara perubahan iklim, kita tidak bisa melihat fenomena dari satu tahun ke tahun berikutnya.Kita harus mendeteksi tren selama jangka waktu yang panjang selama puluhan tahun dan kecenderungannya tetap menunjukkan adanya pemanasan.
La Nina hanya akan menyebabkan variabilitas. Akan selalu ada tahun yang lebih dingin dan tahun yang lebih hangat daripada tahun sebelumnya. Tapi kecenderungan grafiknya tetap sama. Temperatur dunia tetap meningkat.
Dinyatakan suhu dekade 1998 sampai 2007 adalah yang terhangat sepanjang sejarah dunia. Sejak awal abad ke-20, rata-rata temperatur global telah naik 0,74 derajat Celsius. Sedangkan Badan Antariksa Amerika Serikat menyebut 2005 sebagai tahun terpanas. Pilihan berbeda diambil lembaga penelitian Hadley Center, yang menetapkan 1998 sebagai tahun terpanas.
Tidak dipermasalahkan perbedaan penetapan oleh berbagai badan penelitian karena perbedaan pengukuran yang ada sangat kecil. Yang jelas, semuanya sepakat tentang adanya kecenderungan jangka panjang peningkatan suhu dunia.
Selagi ada La Nina, nikmatilah tahun yang sejuk ini karena tahun depan El Nino akan memanggang bumi dengan suhu yang diduga lebih panas daripada rekor pada 1998.

Siklus Karbon

Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).
Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermaca-macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer.
Neraca karbon global adalah kesetimbangan pertukaran karbon (antara yang masuk dan keluar) antar reservoir karbon atau antara satu putaran (loop) spesifik siklus karbon (misalnya atmosfer – biosfer). Analisis neraca karbon dari sebuah kolam atau reservoir dapat memberikan informasi tentang apakah kolam atau reservoir berfungsi sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon dioksida.

Polusi Udara di Jakarta Terburuk ketiga di Dunia

Kualitas udara kota Jakarta saat ini berada pada urutan ke tiga terburuk di dunia, setelah Meksiko dan Panama. Komponen terbesar yang menyumbangkan polusi udara adalah asap kendaraan bermotor. Asap kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua menyumbangkan 80 persen polusi di Jakarta, sedangkan 20 persen sisanya berasal dari industri. Saat ini Pemda Jakarta berusaha melakukan advokasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungannya. Ia mengimbau agar masyarakat mau mulai menghijaukan Jakarta berawal dari halaman rumahnya.

Indonesia Bisa Menyalamatkan Dunia

Indonesia berpotensi mengurangi suhu bumi secara global sebesar rata-rata 0,4 derajat celsius jika berhasil melakukan reforestasi (penghutanan kembali, Red) dalam jangka waktu 100 tahun ke depan.
Dengan asumsi sampai 2110 Indonesia berhasil melakukan reforestasi seluas 75,95 juta hektare, volume karbon yang berhasil diserap oleh hutan di Tanah Air sejumlah 58,1 giga ton dari total emisi karbon saat itu yang diperkirakan mencapai 156,86 giga ton.
Selain berdampak pada penurunan suhu bumi secara global, model reforestasi juga diyakini bisa mengurangi suhu udara di wilayah Indonesia sebesar rata-rata 4,26 derajat celsius. Artinya dari penyerapan sebesar itu, Indonesia telah berkontribusi sebesar 37 persen dalam pengurangan emisi global.
Penelitian ini merupakan suatu terobosan bagus saat semua penelitian yang selama ini dikerjakan menunjukkan terjadinya peningkatan suhu bumi dari tahun 1900-2100 sebesar 6 derajat celsius. Namun jika reforestasi oleh Indonesia dilakukan sesuai dengan skenario yang ada, perubahan suhu udara global hanya mencapai rata-rata 5,6 derajat celsius.
Jika dikonversikan dengan biaya, program reforestasi Indonesia berpotensi menyelamatkan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia sebesar US$ 940 miliar sampai US$ 1.890 miliar. Penelitian yang melahirkan permodelan iklim tersebut didasarkan atas beberapa asumsi, seperti tidak terjadinya perubahan tata guna lahan di dalam dan luar negeri.
Hutan Indonesia memegang peranan sangat penting dalam siklus karbon dunia. Hutan mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar dalam berbagai vegetasi dan tanah. Pertukaran karbon dengan atmosfer, kata Aulia, terjadi melalui proses fotosintesis dan respirasi. Tetapi hutan pun dapat menjadi sumber karbon bagi atmosfer ketika hutan rusak, baik karena ulah manusia, seperti prosedur panen yang salah, penebangan liar dan konversi hutan dengan cara pembersihan dan pembakaran tanaman hutan, maupun kejadian alam, seperti kebakaran hutan.
Saat ini Indonesia merupakan negara kedua dengan jumlah hutan tropis terluas di dunia, setelah Brasil. Jumlah luas areal hutan di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 93,92 juta hektare.
Jika dibandingkan dengan luasan hutan tahun 1985 maka terjadi penurunan luasan hutan sebesar 25,78 juta hektare, dengan laju penurunan sebesar rata-rata 1,37 persen per tahun pada periode 1985 sampai 1997 dan 3,22 persen per tahun pada periode 1997 sampai 2005.”
Berdasarkan penelitian laju kehilangan hutan di Indonesia mencapai 17 persen dari tahun 1985 sampai 1997 atau setara dengan 1,64 juta hektare per tahun.pada periode 1985 sampai 1997 dan 3,22 persen per tahun pada periode 1997 sampai 2005.Berdasarkan penelitian laju kehilangan hutan di Indonesia mencapai 17 persen dari tahun 1985 sampai 1997 atau setara dengan 1,64 juta hektare per tahun.

Faktor Ekonomi

Bagaimanapun Dr. John Holdren, Ketua Assosiasi Kemajuan Ilmun Pengetahuan Amerika, mengkuatirkan posisi Presiden George Bush yang ingin agar perekonomian Amerika tidak akan menderita jika buangan emisi ditetapkan.

“Namun dampak ekonomi jika tidak menangani perubahan iklim sebenarnya lebih besar dari biaya untuk menanganinya,” tambahnya.

Sementara itu parlemen Kanada sudah mendesak pemerintahnya untuk memenuhi pengurangan emisi sesuai dengan Traktat Kyoto.

Partai Konservatif yang memerintah di Kanada mengatakan target yang ditetapkan tahun 1990, yaitu pengurangan 6% pada masa 2008-2012, tidak mungkin dicapai.

Tapi pemungutan suara di Parlemen Kanada memutuskan pemerintah mendapat waktu 60 hari untuk mencari formulasi baru dalam mencapai sasaran itu.

Meningkatkan Semangat Deklarasi Perubahan Iklim

Pertemuan selama 2 hari di Washington ini diikuti oleh negara G8 dan beberapa kekuatan ekonomi baru, seperti Brasil, Cina, India, Meksiko, dan Afrika Selatan.
Wartawan urusan Lingkungan BBC, Roger Harrabin, yang meliput pertemuan mengatakan deklarasi ini memang tidak punya kekuatan mengikat, namun meningkatkan semangat dalam memerangi pemanasan global.
Para delegasi sepakat bahwa negara-negara berkembang juga harus memenuhi target buangan emisi sama dengan negara-negara maju lainnya.
Mereka mengatakan ingin menggantikan Traktat Kyoto yang akan habis masa berlakunya pada tahun 2012.
Senator Amerika Serikat, Joe Lieberman, mengatakan Kongres Amerika akan menyusun Undang-undang untuk memotong buangan emisi pada akhir tahun ini.
Dan salah seorang politisi yang ingin mencalonkan diri dalam pemilihan presiden Amerika, John McCain, mendukung prakarsa baru ini.
Saya yakin bahwa kita telah mencapai titik puncak dan Kongres Amerika Serikat akan bertindak

Terumbu Karang Terancam

Sekarang masih ada kekuatiran lainnya, yaitu peningkatan keasaman laut, dan terumbu karang adalah yang paling rentan menghadapi peningkatan ini.
Menurut Dr. Nerilie Abrahams dari Universitas Nasional Australia, terumbu karang seperti sedang mencatat kematiannya sendiri.
Kita tahu bahwa jumlah Karbon Dioksida yang dipompakan ke atmosfir sebetulnya mengubah keasaman laut, dan membuatnya lebih asam lagi. Bahayanya adalah tentu saja seluruh terumbu karang akan hancur dan larut karena asam tadi.
Persoalan perubahan suhu maupun berbagai perubahan lain yang dialami lautan sebetulnya bukanlah sesuatu yang luar biasa.
Di masa lalu hal ini sudah berulangkali terjadi, namun perbedaannya adalah saat ini perubahan suhu tersebut dipicu oleh campur tangan manusia, jadi bukan karena sebab alami.
Dan jika campur tangan manusia itu tidak bisa dikurangi lagi, maka tidak bisa pula dihentikan lagi.
Para ilmuwan memang belum bisa meramalkan secara pasti tentang apa yang akan terjadi di masa depan, namun indikasi awal menunjukkan pengaruhnya adalah negatif.

Kemampuan Laut Menyerap Panas Berkurang

Sangat dikuatirkan jika pemanasan global akan menghilangkan sama sekali arus perpindahan air tersebut.
Kita semua tahu bahwa bumi sedang memanas dan di belahan bumi Utara pemanasan lebih tinggi dibanding yang lainnya. Kita sudah melihat sendiri pencairan es di Artik dan lapisan es di Pulau Greenland
Pemanasan itu akan membuat jumlah air tawar di Laut Utara semakin banyak dan karena air tawar lebih ringan dari air laut, maka letaknya berada di permukaan air laut.
Keberadaan air tawar ini mencegah air hangat yang sampai di daerah kutub terserap panasnya oleh atmosfir agar menjadi dingin untuk turun ke dasar laut. Karenanya proses sabuk arus lautan tidak lagi berfungsi.
Tidak berfungsinnya sabuk arus laut ini membahayakan kehidupan biota laut karena itu berarti tidak akan ada lagi pergerakan.
Sebenarnya berhentinya sabuk arus lautan ini pernah terjadi selama 1000 tahun, dan membuat Eropa kembali ke jaman es, yaitu di abad ke 14.
Waktu itu kawasan Eropa seperti menjadi sebuah benua es mini, dan penyebabnya adalah gejala alami, antara lain badai angin yang keras.

Adanya Sabuk Laut

Belakangan ini ada kekuatiran kalau laut saat ini semakin tidak mampu mendistribusikan panas ke seluruh penjuru bumi.
Dibawah permukaan air, ada gelombang atau mungkin lebih tepat disebut aliran arus laut, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai Sabuk Laut.
Fungsi sabuk laut ini adalah mendorong air laut, yang sudah dipanaskan oleh matahari di wilayah tropik, ke daerah yang lebih dingin di kutub.
Proses sebaliknya juga terjadi, yaitu air dingin di Artik dan Antartika dibawa ke daerah tropik untuk dipanaskan.
Stuart Cunningham, seorang pakar khusus persoalan arus laut dari Inggris, mengatakan bahwa proses itu amat penting untuk Lautan Atlantik.
“Di wilayah utara Atlantik ada Laut Artik, sehingga arus air hangat bisa bergerak hingga jauh sekali ke ujung kutub. Itulah sebabnya iklim Eropa relatif tidak terlalu dingin,” tuturnya.
Arus Atlantik Utara lebih dikenal dengan sebutan arus Teluk, dan yang dikuatirkan para ilmuwan adalah pemanasan global akan memperlambat arus itu.

Laut Yang Memanas

Menurut ilmuwan kelautan, gambaran laut yang hangat itu akan mudah kita jumpai dalam 100 tahun mendatang.

Tetapi itu jelas bukan berarti berita baik untuk lingkungan karena lautan biru itu muncul disebabkan pemanasan global yang membuat laut menjadi terlalu panas bagi ikan, atau terlalu beracun untuk hewan laut.

Lautan yang makin panas itu juga mungkin sudah tidak mampu lagi untuk menyerap Karbon Dioksida, CO2, dari atmosfer bumi.

Selama ini lautan menyerap lebih dari separuh panas yang dipancarkan matahari dan kemudian membaginya ke seluruh permukaan bumi.

Dan menurut Dr. John Shepherd dari Lembaga Oseanografi Inggris di Southampton, lautan juga ikut memperlambat dan mengurangi ancaman perubahan suhu.

“Lautan meringankan dampak perubahan iklim dengan menyerap Karbon Dioksida dan karenanya mengurangi jumlahnya yang ada di atmosfir bumi,” kata Dr. John.

Dia menambahkan lautan bisa dianalogikan sebagai bemper terhadap perubahan iklim dunia.

Kesalahan Manusia

Menurut saya pemanasan global terjadi karena ulah manusia itu sendiri, dan sekarang manusia baru merasakan bahwa kemajuan teknologi memang tidak selalu menjamin manusia untuk hidup sejahtera, melainkan malah memperburuk kehidupan kita.
Bumi ini terasa terjajah oleh manusia, namun manusia tidak menyadari apa yang diperbuatnya. Saran saya tolong kurangi efek rumah kacanya dan galakkan program sejuta pohon di Kalimantan dan Amazon. Kedua wilayah itu sering disebut paru-paru dunia, jadi tolong jangan dirusak.
Kita harus berusaha yang terbaik, paling tidak berusaha untuk memperbaiki sesuatu agar masih bisa melihat dunia ini lebih baik untuk masa depan, untuk anak cucu kita. Dan ketika kelak kita ‘ditanya’ maka kita bisa menjawab bahwa; “inilah usaha kami dan inilah kesalahan kami juga

Indonesia Rentan Terhadap Pemanasan Global

Saya prihatin dengan kondisi indonesia yang semakin lama semakin rentan terhadap reaksi alam. Saya berharap masyarakat indonesia dapat memahami bahwa saat ini kita perlu menanamkan pada masyarakat akan hal-hal kecil yang dapat mempengaruhi pemanasan global. Saya juga berharap pemerintah dapat menginformasikan pemanasan global ini secara lebih spesifik dan terbuka, sehingga tidak hanya sebagian dari masyarakat saja yang perduli tetapi semua lapisan juga mendapat pendidikan mengenai alam secara jelas.
Sudah saatnya masyarakat Indonesia mulai perduli tentang adanya pemanasan global untuk kelangsungan umat dunia di masa yang akan datang.
Ada baiknya kita sama-sama menjaga dan jangan saling menyalahkan. Kita juga sebaiknya melakukan koreksi diri masing-masing apakah kita sudah melestarikan alam ini.

An Inconvenient Truth

An Inconvenient Truth adalah sebuah film pemenang Academy Award dalam kategori film dokumenter tentang perubahan iklim (khususnya yang diakibatkan pemanasan global) dan dibawakan oleh mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore dan diarahkan oleh sutradara Davis Guggenheim. Buku pendampingnya yang juga dikarang oleh Al Gore telah menjadi buku terlaris (bestseller) dalam daftar versi New York Times sejak 11 Juni 2006, dan menjadi no 1 pada 2 Juli 2006.
Film ini pertama kali ditayangkan pada Festival Film Sundance 2006 dan setelah itu ditayangkan untuk umum pertama kali di New York dan Los Angeles pada 24 Mei 2006. Film ini menjadi 3 terbesar dalam sejarah untuk kategori pendapatan penghasilan kotor di Amerika Serikat sampai saat ini.Distributor Film, Paramount Classics, menyumbangkan 5% dari penghasilan bonus box office mereka dan Al Gore sendiri menyumbangkan semua bonus yang didapatnya dari film ini kepada The Alliance for Climate Protection (dimana ia menjadi pendiri dan ketuanya). Film ini dirilis dalam bentuk DVD oleh Paramount Home Entertainment pada 21 November 2006. Film ini secara umum diterima dan disambut baik oleh para kritikus film, ilmuwan dan politikus, bahkan telah menjadi bahan wajib untuk ditonton di seluruh sekolah di seluruh penjuru dunia, di antaranya Norwegia dan Swedia. Di lain pihak, para penentang konsep pemanasan global mengatakan bahwa penilitian pemanasan global dalam film ini terlalu heboh dan dibesar-besarkan

Akibat Ulah Manusia

Saat ini, lingkungan hidup kita banyak yang rusak. Contohnya saja hutan. Hutan kini mulai rusak, dan faktor utamanya adalah manusia. Pohon-pohon ditebangi oleh manusia. Manusia mengambil kayu dengan sembarangan, yang disebut juga penebangan hutan secara liar. Mereka tidak melakukan tebang tanam, atau tebang pilih. Akibatnya hutan gundul. Banyak terjadi banjir, erosi, dan akibat-akibat lainnya. Hewan-hewan tidak memiliki tempat tinggal. Tumbuhan banyak yang punah. Hewan juga mengalami kepunahan. Manusia kekurangan bahan pangan yang dapat menyebabkan kematian. Sumber airpun mulai tercemar. Manusia menjadi kekurangan air, baik untuk mandi ataupun minum. Air tercemar juga merupakan ulah manusia. Manusia membuang limbah pabrik secara langsung ke lautan. Ikan juga dapat mati. Manusia juga dapat keracunan. Sering pencemaran lingkungan hidup diakibatkan oleh ulah manusia sendiri. Manusia terlanjur sering menggunakan bahan kimia yang merusak lingkungan hidup. Diam-diam,kita juga merusak lingkungan hidup dengan memakai detergen, shampoo, sabun, pasta gigi, serta membuang sampah plastik sembarangan. Jadi,jagalah dan lestarikan lingkungan hidup kita!
well………. kita haruz menjaga sumber daya alam and hemat listrik ok coy…global warming teh haruz kita atasi,kalo kita bersatu kita pasti………. bisa!!!! DAN BREBES JUGA HARUS IKUT BERPARTISIPASI MENGATASI NYA TERMASUK KITE PARA REMAJA OK….JEEEHHH…!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: